Sabtu, 19 Desember 2020

Aksi Nyata -Nilai dan Peran Guru Penggerak Modul 1.2.b.11.

Aksi Nyata Nilai dan Peran Guru Penggerak

Maina Trisnawati Hasibuan

Fasilitator Ibu Yetty Fatri Dewi

Pendamping Ibu Elsa Hanani Barus

Setiap anak dilahirkan dengan kodratnya masing - masing, dan kodrat itu akan berkembang sesuai lingkungan dan keberadaan masing - masing anak. Jika anak di didik dan di tuntun dengan pendidikan dan penuntun yang benar maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula, demikian sebaliknya. Jika di analogikan seperti seorang tukang kebun yang mengelola berbagai macam jenis poho buah dalam sebuah kebun. Kebun buah memiliki bermacam – macam pohon, ada pohon pisang, jambu, rambutan, manga dan lainnya. Tukang kebun tidak dapat mengubah pohon pisang akan berbuah mangga atau pohon jambu akan berbuah rambutan. Tukang kebun dengan berbagai upaya akan membuat pohon pisang menghasilkan pisang yang bagus, pohon manga akan mengahasilkan manga yang manis, pohon rambutan akan berbuah rambutan yang merah dan manis tetapi tidak bisa mengubah kodrat sejati dari pohon – pohon tersebut.

Guru tidak bisa mengubah kodrat setiap anak didiknya, Sekuat apa pun ia dalam mendidik anak dalam 1 kelas tidak akan dapat mengubah anak – anak menjadi seperti anak lain. Guru dapat  menuntun anak didik sesuai dengan kodrat mereka masing - masing. Kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam anak sudah ada Ketika anak lahir dan terus berkembang bagaimana keluarga dan orang terdekatnya membri pengaruh padanya. Kodrat zaman bagaimana anak dengan perkembangan yang terus mempengaruhinya baik dari segi lingkunga, teknologi atau hal – hal yang mempengaruhinya.

Dalam peran guru menuntun anak – anak ada beberapa nilai yang harus di tekankan guru agar anak – anak memahami, menyadari dan menerima keberadaan satu dengan yang lain yaitu Toleransi. Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, Bahasa, agama dan kebudayaan. Guru dapat membantu anak didik dalam mengembangkan keperbedaan itu menjadi kekuatan dari perkembangan anak didik jika kata “Toleransi” tidak sekedar ucapan tetapi juga perlakuan. Anak – anak yang datang kesekolah tidaklah semua berasal dari suku yang sama, agama yang sama, daerah yang sama, kebudayaan yang sama tetapi mereka dating dengan keperbedaan.

Demikian juga di SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa, anak didik yang ada di sini dengan berbagai macam perbedaan. Berasal dari suku yang berbeda( Ada suku batak toba, simalungun, karo, jawa, cina dan india), berasal dari agama yang berbeda (Ada Islam, Kristen, Katolik, Buddha dan Hindu) serta Bahasa yang berbeda sesuai daerah asal mereka. Semua perbedaan yang ada akan menjadi indah dan membuat anak didik merasakan bahwa Indonesia kaya akan kebudayaan dan patut untuk di lestarikan tanpa memndang kelebihan dan kelemahan.

Untuk menumbuhkan toleransi tersebut, Langkah awal yang saya lakukan adalah dengan berdiskusi bersama anak- anak untuk memancing mereka memunculkan apa yang menjadi kebudayaan mereka dalam bentuk foto, video atau tulisan. Kebudayaan yang di tampilkan bisa berbentuk kerajinan, makanan atau apa saja yang menjadi kebudayaan anak didik. Setiap anak didik bisa mendapatkan keterangan tentang kebudayaan mereka dari orang tua,atau mencari di Internet

Hasil dari aksi nyata tersebut anak didik sangat antusias untuk melihat sejarah dari kebudayaan yang ditampilkan dan menjadi sumber pengetahuan baru dari apa yang belum mereka pahami selama ini. Beberapa kebudayaan yang di buat oleh peserta didik, ada kerajinan, makanan maupun benda bersejarah dalam kebudayaan mereka (Untuk lebih jelasnya ada pada video)

 

Dokumentasi :

1.       Pemaparan akan Toleransi Budaya





2.    Hasil Kerja

Bersama ama ( nenek ) menceritakan sejarah kebudayaan makanan khas cina “Fuyunghai”


Makanan dan lampion  Kebudayaan Khas Cina



Kain Ulos dan damau toba sebagi pariwisata Kebudayaan dari daerah Batak Toba


Saksang makanan kebudayaan daerah batak 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar