Aksi Nyata Nilai dan Peran Guru Penggerak
Maina Trisnawati
Hasibuan
Fasilitator Ibu Yetty Fatri Dewi
Pendamping Ibu Elsa Hanani Barus
Setiap anak dilahirkan
dengan kodratnya masing - masing, dan kodrat itu akan berkembang sesuai
lingkungan dan keberadaan masing - masing anak. Jika anak di didik dan di
tuntun dengan pendidikan dan penuntun yang benar maka anak akan tumbuh dan
berkembang dengan baik pula, demikian sebaliknya. Jika di analogikan seperti seorang tukang kebun yang
mengelola berbagai macam jenis poho buah dalam sebuah kebun. Kebun buah
memiliki bermacam – macam pohon, ada pohon pisang, jambu, rambutan, manga dan
lainnya. Tukang kebun tidak dapat mengubah pohon pisang akan berbuah mangga
atau pohon jambu akan berbuah rambutan. Tukang kebun dengan berbagai upaya akan
membuat pohon pisang menghasilkan pisang yang bagus, pohon manga akan
mengahasilkan manga yang manis, pohon rambutan akan berbuah rambutan yang merah
dan manis tetapi tidak bisa mengubah kodrat sejati dari pohon – pohon tersebut.
Guru tidak bisa mengubah kodrat setiap anak didiknya,
Sekuat apa pun ia dalam mendidik anak dalam 1 kelas tidak akan dapat mengubah
anak – anak menjadi seperti anak lain. Guru dapat menuntun anak didik sesuai dengan kodrat
mereka masing - masing. Kodrat
alam dan kodrat zaman. Kodrat alam anak sudah ada Ketika anak lahir dan terus
berkembang bagaimana keluarga dan orang terdekatnya membri pengaruh padanya.
Kodrat zaman bagaimana anak dengan perkembangan yang terus mempengaruhinya baik
dari segi lingkunga, teknologi atau hal – hal yang mempengaruhinya.
Dalam peran guru menuntun anak – anak ada beberapa
nilai yang harus di tekankan guru agar anak – anak memahami, menyadari dan
menerima keberadaan satu dengan yang lain yaitu Toleransi. Tidak dapat
dipungkiri bahwa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, Bahasa, agama dan
kebudayaan. Guru dapat membantu anak didik dalam mengembangkan keperbedaan itu
menjadi kekuatan dari perkembangan anak didik jika kata “Toleransi” tidak
sekedar ucapan tetapi juga perlakuan. Anak – anak yang datang kesekolah
tidaklah semua berasal dari suku yang sama, agama yang sama, daerah yang sama,
kebudayaan yang sama tetapi mereka dating dengan keperbedaan.
Demikian juga di SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa,
anak didik yang ada di sini dengan berbagai macam perbedaan. Berasal dari suku
yang berbeda( Ada suku batak toba, simalungun, karo, jawa, cina dan india),
berasal dari agama yang berbeda (Ada Islam, Kristen, Katolik, Buddha dan Hindu)
serta Bahasa yang berbeda sesuai daerah asal mereka. Semua perbedaan yang ada
akan menjadi indah dan membuat anak didik merasakan bahwa Indonesia kaya akan
kebudayaan dan patut untuk di lestarikan tanpa memndang kelebihan dan
kelemahan.
Untuk menumbuhkan toleransi tersebut, Langkah awal
yang saya lakukan adalah dengan berdiskusi bersama anak- anak untuk memancing
mereka memunculkan apa yang menjadi kebudayaan mereka dalam bentuk foto, video
atau tulisan. Kebudayaan yang di tampilkan bisa berbentuk kerajinan, makanan
atau apa saja yang menjadi kebudayaan anak didik. Setiap anak didik bisa
mendapatkan keterangan tentang kebudayaan mereka dari orang tua,atau mencari di
Internet
Hasil dari aksi nyata tersebut anak didik sangat
antusias untuk melihat sejarah dari kebudayaan yang ditampilkan dan menjadi
sumber pengetahuan baru dari apa yang belum mereka pahami selama ini. Beberapa
kebudayaan yang di buat oleh peserta didik, ada kerajinan, makanan maupun benda
bersejarah dalam kebudayaan mereka (Untuk lebih jelasnya ada pada video)
Dokumentasi
:
1. Pemaparan akan Toleransi Budaya
2. Hasil Kerja
Bersama
ama ( nenek ) menceritakan sejarah kebudayaan makanan khas cina “Fuyunghai” |
Makanan
dan lampion Kebudayaan Khas Cina |
Kain
Ulos dan damau toba sebagi pariwisata Kebudayaan dari daerah Batak Toba |
Saksang
makanan kebudayaan daerah batak |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar