Rabu, 23 Desember 2020

1.4 Penerapan Budaya Positif

Budaya Positif menuju pembelajaran yang menyenangkan
Maina Trisnawati Hasibuan

Fasilitator Ibu Yetty Fatri Dewi

Pendamping Ibu Elsa Hanani Barus

 

S

alah satu hal yang dapat memperbaiki laku anak didik adalah dengan penerapan budaya positif. Budaya positif sangat bersinergi dengan karakter baik, artinya budaya positif itu akan lahir dalam karakter yang baik pula, inilah yang menjadi dari budi pekerti menurut Bapak Kihajar Dewantara yang dalam kurikulum dikenal sebagai salah satu Profil Pelajar Pancasila.

Budaya positif adalah suatu pembiasaan yang bernilai positif, bukan sekedar sikap tetapi di terapkan dengan tingkah laku dan perbuatan yang positif dan di dalamnya mengandung sejumlah kegiatan yang mampu menumbuhkan karakter peserta didik ke arah yang positif. Budaya positif perlu dibangun dalam suatu kelas yang akan berdampak pada budaya positif di sekolah dan berperan dalam visi sekolah. Mewujudkan budaya positif harus dilakukan sejak dini mengingat dalam prosesnya membutuhkan waktu yang lama dan konsisten dari setiap stakeholder yang ada. Setiap ekosoistem sekolah memiliki peran yang besar dalam mewujudkan disiplin positif, baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Di lingkungan sekolah, guru dapat menerapkan budaya positif seperti bekerja sama dengan rekan sejawat, berinteraksi secara akrab dengan peserta didik, menerapkan sikap disiplin dan bertanggung jawab serta menjadi teladan bagi peserta didik. Sedangkan di lingkungan kelas, salah satu langkah yang guru dapat lakukan adalah membangun budaya positif melalui komunikasi efektif.

Deskripsi Aksi Nyata yang dilakukan

S

elama 9 Bulan melakukan pembelajaran jarak jauh banyak sekali perubahan yang dialami anak didik dalam hal etika dan disiplin ketika melakukan pembelajaran. Selain komunikasi yang tidak efetif hal ini juga disebabkan karena tidak adanya kontrol dari orang tua selama belajar dari rumah mengingat kesibukan orang tua. Akibatnya ketika pembelajaran daring berlangsung anak didik sangat bebas untuk berpendapat tanpa menghargai teman (dari pengamatan penulis dikarenakan tidak bertemu langsung) bahkan ada yang mangkir dari tugas ketika guru meminta ada pengerjaan praktek yang harus didiskusikan secara berkelompok. Inilah yang mendasari penulis membuat aksi nyata untuk pembiasaan displin positif.

 

Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

Dari aksi nyata yang dilakukan penulis melakukan beberapa tindakan dalam kesepakatan kelas, Langkah-langkah yang di lakukan dalam menyusun kesepakatan kelas:

1.    Saya melakukan komunikasi dengan anak didik melalui WA grup untuk memberikan pemahaman tentang kesepakatan kelas dan menyepakati waktu pelaksanaan pembuatan kesepakatan kelas

2.    Melakukan zoom meeting dalam melaksanakan pertemuan kesepakatan kelas

3.    Pada saat zoom berlangsung anak didik diminta menjawab beberapa pertanyaan dengan menggunakan aplikasi jamboard

4.    Setelah selesai kemudian bersama – sama  membuat kesepakatan yang akan di jalankan bersama pada saat semester genap di awal januari 2020

 

Pembelajaran yang di dapat dan Rencana perbaikan

Dari memulai praktek budaya positif dengan menerapkan kesepakatan kelas  penulis menyadari bahwa Pendidikan bukan saja berbicara tentang ilmu pengetahuan dan karakter/budi pekerti, tetapi Pendidikan menuntun anak didik untuk memahami bagaimana menanamkan karakter dengan kesadaran masing – masing, sehingga setiap anak didik dapat dilatih melakukan apa yang sudah di katakan, disepakati untuk dilakukan bersama – sama dalam ekosistem kelas dan sekolah. Hal ini akan membuat warga sekolah menyadari dan bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Inilah pembelajaran Budaya positif yang sebenarnya: memahami, membuat, melakukan, mengevaluasi, memperbaiki dan akhirnya menjadi gaya hidup/ karakter yang secara sadar mulai terbentuk bukan saja kepada anak didik tetapi juga kepada warga kelas dan sekolah.

 

Dokumentasi:

1.       Pemaparan akan pentingnya budaya positif di kelas dan sekolah melalui WA Grup Kelas



















    2. Membuat pertanyaan melalui jamboard dan anak didik memberikan pendapatnya
     

    

























3. Membuat kesepakatan kelas





















4. Berkomitmen menjalankan bersama



Minggu, 20 Desember 2020

Rancangan Aksi Nyata 1.3


 

Aksi Nyata Modul 1.3

 Aksi Nyata Modul 1.3

Maina Trisnawati Hasibuan

CPG Kabupaten Deli serdang Provinsi Sumatera Utara

Fasilitator Ibu Yetty fatri Dewi

Pendamping Ibu Elsa Hanani Br Barus

 

 

Latar belakang tentang situasi

Sekolah sangat berarti bagi tumbuh kembang anak didik, karena melalui pendidikan disekolah selama 12 tahun mereka belajar ilmu pengetahuan, karakter, akal budi dan segala sesuatu yang akan mengubah kehidupan mereka. Di sekolah juga anak didik  mulai merangkai masa depan mereka dengan tuntunan, semangat dan dorongan dari para bapak/ibu gurunya. Bagaimana mereka merangkai masa depannya juga tergantung bagaimana Bapak/ibu guru menuntun mereka.  Proses menuntun anak didik dengan latar belakang keluarga yang berbeda, sifat dan sikap yang berbeda, kesukaan yang berbeda dan cara pandang anak didik akan masa depan yang berbeda bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi dengan mengetahui bagaimana anak didik yang akan kita tuntun akan sangat membantu guru menemukan strategi yang efektif dalam menjalankan perannya sebagai penuntun masa depan anak didik.

Tidak terkecuali dengan yang penulis hadapi dalam menjalankan peran sebagai pendidik di dalam menuntun anak didik di SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa. Penulis mengalami beberapa kesulitan dalam menghadapi anak didik terkhusus saat pembelajaran dilakukan dari rumah. Apa yang sering penulis lakukan dalam membuat konsep pembelajaran dari rumah sering sekali kurang direspon oleh anak didik. Penulis sudah menanyakan melalui Whatsapp Grup ataupun secara pribadi dan menemukan beberapa kendala yang anak didik hadapi Ketika melakukan proses pembelajaran yang membuat mereka merasa bosan dan kurang tertarik untuk belajar.

Deskripsi Aksi Nyata yang dilakukan

Berdasarkan apa yang penulis sampaikan pada latar belakang diatas, maka penulis melakukan  ada beberapa hal yang  penulis rencanakan dan lakukan selama 4 minggu dari pertengahan November sampai pertengahan Desember, yaitu:

1. Membuat pertanyaan yang akan membuka pemikiran anak didik akan kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri anak didik masing – masing. Selain itu penulis juga membuat pertanyaan kira – kira peluang apa yang anak didik lihat dalam diri anak didik untuk dapat di tonjolkan.

2. Langkah kedua penulis merumuskan apa yang menjadi kekuatan dalam diri anak didik dan merangkai menjadi sebuah program yang akan penulis jalankan pada saat pembelajaran tatap muka semester depan.

 

Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

Dari deskripsi aksi nyata yang sudah penulis rencanakan dan lakukan, maka Rencana program mini yang akan penulis lakukan dalam pembelajaran semester depan adalah

Draf pembelajaran sesuai dengan hasil angket untuk dilakukan pada proses pembelajaran semester genap



 








Pembelajaran yang di dapat dan Perbaikan Kedepan

Pendidikan yang menyenangkan dan berpusat pada murid itu tidak gampang untuk dilakukan karena banyak hal yang harus diperhatikan tetapi juga tidak sulit untuk diterapkan jika setiap pendidik punya kemauan untuk sebuah perubahan. Setelah apa yang penulis lakukan dalam sebuah angket kesadaran maka penulis merumuskan bahwa Anak didik adalah objek kasih para pendidik, maka sudah sepatutnya pendidik memberikan yang terbaik buat anak didik. Dengan memperhatikan kekuatan, kelemahan, tantangan dan kesempatan yang ada pada anak didik maka pembelajaran yang menyenangkan menurut murid, berkoordinasi dengan para murid, maka tugas untuk menuntun akan lebih mudah untuk dilakukan.

Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Perubahan adalah sebuah keharusan yang suka atau tidak, mau atau tidak memang akan terjadi. Maka seorang pendidik tidak perlu menghindari perubahan tersebut, tetapi para pendidik sebaiknya bersiap bukan untuk menentang perubahan tetapi berjalan sesuai perannya  beriringan dengan perubahan sekalipun itu sulit. Dengan mengetahui kekuatan yang ada kesulitan akan perlahan terkikis dan kesempatan akan terbuka lebar.

Saya mengawali kegiatan pembelajaran diawal semester genap dengan berdiskusi dengan anak didik melalui aplikasi zoom (Sesuai dengan yang sudah kami sepakati). Saya sanagt senag melalui diskusi dan beberapa pendekatan melalui aplikasi WhatsApp anak didik mau terbuka untuk sama – sama merencanakan pembelajaran yang menyenagkan. Semoga hal ini etrus dapat saya lakukan untuk perbaikan Pendidikan yang menyenangkan.

Salam Pendidikan, Salam Bahagia.

                                                   

Dokumentasi

Angket











Kelemahan menurut anak didik

Kekuatan anak didik


 Pertemuan melalui aplikasi Zoom






Sabtu, 19 Desember 2020

Aksi Nyata -Nilai dan Peran Guru Penggerak Modul 1.2.b.11.

Aksi Nyata Nilai dan Peran Guru Penggerak

Maina Trisnawati Hasibuan

Fasilitator Ibu Yetty Fatri Dewi

Pendamping Ibu Elsa Hanani Barus

Setiap anak dilahirkan dengan kodratnya masing - masing, dan kodrat itu akan berkembang sesuai lingkungan dan keberadaan masing - masing anak. Jika anak di didik dan di tuntun dengan pendidikan dan penuntun yang benar maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula, demikian sebaliknya. Jika di analogikan seperti seorang tukang kebun yang mengelola berbagai macam jenis poho buah dalam sebuah kebun. Kebun buah memiliki bermacam – macam pohon, ada pohon pisang, jambu, rambutan, manga dan lainnya. Tukang kebun tidak dapat mengubah pohon pisang akan berbuah mangga atau pohon jambu akan berbuah rambutan. Tukang kebun dengan berbagai upaya akan membuat pohon pisang menghasilkan pisang yang bagus, pohon manga akan mengahasilkan manga yang manis, pohon rambutan akan berbuah rambutan yang merah dan manis tetapi tidak bisa mengubah kodrat sejati dari pohon – pohon tersebut.

Guru tidak bisa mengubah kodrat setiap anak didiknya, Sekuat apa pun ia dalam mendidik anak dalam 1 kelas tidak akan dapat mengubah anak – anak menjadi seperti anak lain. Guru dapat  menuntun anak didik sesuai dengan kodrat mereka masing - masing. Kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam anak sudah ada Ketika anak lahir dan terus berkembang bagaimana keluarga dan orang terdekatnya membri pengaruh padanya. Kodrat zaman bagaimana anak dengan perkembangan yang terus mempengaruhinya baik dari segi lingkunga, teknologi atau hal – hal yang mempengaruhinya.

Dalam peran guru menuntun anak – anak ada beberapa nilai yang harus di tekankan guru agar anak – anak memahami, menyadari dan menerima keberadaan satu dengan yang lain yaitu Toleransi. Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, Bahasa, agama dan kebudayaan. Guru dapat membantu anak didik dalam mengembangkan keperbedaan itu menjadi kekuatan dari perkembangan anak didik jika kata “Toleransi” tidak sekedar ucapan tetapi juga perlakuan. Anak – anak yang datang kesekolah tidaklah semua berasal dari suku yang sama, agama yang sama, daerah yang sama, kebudayaan yang sama tetapi mereka dating dengan keperbedaan.

Demikian juga di SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa, anak didik yang ada di sini dengan berbagai macam perbedaan. Berasal dari suku yang berbeda( Ada suku batak toba, simalungun, karo, jawa, cina dan india), berasal dari agama yang berbeda (Ada Islam, Kristen, Katolik, Buddha dan Hindu) serta Bahasa yang berbeda sesuai daerah asal mereka. Semua perbedaan yang ada akan menjadi indah dan membuat anak didik merasakan bahwa Indonesia kaya akan kebudayaan dan patut untuk di lestarikan tanpa memndang kelebihan dan kelemahan.

Untuk menumbuhkan toleransi tersebut, Langkah awal yang saya lakukan adalah dengan berdiskusi bersama anak- anak untuk memancing mereka memunculkan apa yang menjadi kebudayaan mereka dalam bentuk foto, video atau tulisan. Kebudayaan yang di tampilkan bisa berbentuk kerajinan, makanan atau apa saja yang menjadi kebudayaan anak didik. Setiap anak didik bisa mendapatkan keterangan tentang kebudayaan mereka dari orang tua,atau mencari di Internet

Hasil dari aksi nyata tersebut anak didik sangat antusias untuk melihat sejarah dari kebudayaan yang ditampilkan dan menjadi sumber pengetahuan baru dari apa yang belum mereka pahami selama ini. Beberapa kebudayaan yang di buat oleh peserta didik, ada kerajinan, makanan maupun benda bersejarah dalam kebudayaan mereka (Untuk lebih jelasnya ada pada video)

 

Dokumentasi :

1.       Pemaparan akan Toleransi Budaya





2.    Hasil Kerja

Bersama ama ( nenek ) menceritakan sejarah kebudayaan makanan khas cina “Fuyunghai”


Makanan dan lampion  Kebudayaan Khas Cina



Kain Ulos dan damau toba sebagi pariwisata Kebudayaan dari daerah Batak Toba


Saksang makanan kebudayaan daerah batak 


 

Selasa, 01 Desember 2020

Pendidikan yang menyenangkan menjadi kekuatan murid dalam mengikuti pembelajaran

Modul 1.1.a.10 Aksi Nyata - Penerapan Pemikiran Kihajar Dewantara di Kelas dan di Sekolah

Maina Trisnawati Hasibuan

Fasilitator Ibu Yetty Fatri Dewi    pendamping Ibu Elsa Hanani Barus 


Text Box: “Pendidikan yang menyenangkan dan berpusat pada murid itu tidak gampang untuk dilakukan karena banyak hal yang harus diperhatikan tetapi juga tidak terlalu sulit untuk diterapkan jika setiap pendidik punya kemauan untuk sebuah perubahan”

Maina Trisnawati Hasibuan

 

Fasilitator Ibu Yetty Fatri Dewi    

pendamping Ibu Elsa Hanani Barus 

 


Latar Belakang

M

enuntun sesuai kodrat, bermain dan menyenangkan, Itulah Hal yang menarik perhatian penulis pertama sekali ketika membaca modul Filosofi Pemikiran Kihajar Dewantara pada modul 1.Hal ini  secara tidak sadar perlahan hilang dalam pembelajaran yang penulis lakukan selama ini. Penulis baru menyadari bahwa anak didik perlu di tuntun bukan dipaksa, anak didik perlu senang dalam mengikuti pembelajaran bukan menurut dengan dikte cara belajar yang guru sampaikan. Anak - anak perlu bermain untuk memperluas kerja pikirannya yang selama ini mungkin tidak mereka dapatkan dalam pembelajaran. Inilah yang mendasari penulis  mengangkat tema "Pendidikan  yang menyenangkan menjadi kekuatan murid dalam pembelajaran". Penulis menyadari bahwa menuntun, bermain dan menyenangkan adalah bagian terbesar dalam perkembangan mental dan pertumbuhan fisik anak didik.

 

D

an dalam pembelajaran online hal lain yang paling sulit dilakukan adalah bagaimana mengukur proses pembelajaran yang dilakukan guru benar - benar bisa diikuti peserta didik dan bagaimana peserta didik merespon setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan karena pembelajaran tidak dilakukan dalam tatap muka. Selaras dengan filosofi Ki hajar Dewantara penulis melihat bahwa penddiikan yang menyenangkan akan dapat membantu murid dalam proses pembelajaran dimanapu dan kapaun waktunya. Maka dengan hal itu penulis mecoba menelusuri apa yang diinginkan anak didik dalam proses pembelajaran yang menyenangkan secara daring.

Deskripsi  dan Realisai Aksi Nyata

Berdasarkan apa yang penulis sampaikan pada latar belakang diatas, maka ada beberapa hal yang  penulis rencanakan dan lakukan selama 4 mingg. Dimulai dari tanggal 2 November sampai tanggal 28 November 2020.

1.      Pada minggu pertama penulis membuat angket, pada angket penulis meminta anak ddik menuliskan apa yang menjadi kekuatan, kelemahan dan apa yang anak didik mau selama pembelajaran online khusunya pelajaran yang penulis ampu. Kemudian penulis bagikan ke kelas IX SMP dengan meminta bantuan Wali Kelas masing - masing dalam pendistribusiannya.

2.     Di minggu kedua penulis meminta waktu untuk membagikan apa yang penulis dapatkan dari hasil angket kepada rekan sejawat dan penulis melakukan beberapa pelatihan dalam membuat pembelajaran yang menarik dengan menggunakan beberapa aplikasi secara online (Sebelumnya penulis sudah meminta ijin kepada Wa. Kepala Sekolah karena Kepala Sekolah dalam kondisi kurang sehat).

3.     Selanjutnya di minggu ke 3 penulis dan beberapa rekan sejawat yang tertarik dengan apa yang penulis bagikan minggu sebelumnya mulai melakukan perubahan dalam pembelajaran dengan memulai pembelajaran sesuai yang di inginkan anak didik selama pembelajaran jarak jauh. Penulis dan beberapa rekan sejawat menggunakan beberapa aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran yang menyenagkan bagi anak didik.

4.     Di minggu keempat penulis melakukan umpan balik dan penguatan kepada anak didik melalui pembelajaran secara online Baik zoom maupun google meeting.

Realisasi dan kendala yang di hadapi

Hasil dari angket tentang kekuatan yang ada pada anak didik kesimpulan yang penulis dapatkan adalah: Mereka lebih banyak menjelaskan kelebihan mereka di bidang keterampilan dan social contohnya dapat mengedit foto/video, memainkan beberapa alat music, senang olahraga, bisa dance/menari, bisa melukis, bisa memasak, bisa menja adik dan membuat mainan adik, bisa membantu orang tua selam belajar di rumah, fasih berbahasa inggris, pintar bermain game, bisa mengerjakan hal – hal yang selama ini tidak bisa dikerjakan misalnya pekerjaan rumah, disiplin, terampil jika melakukan sesuatu yang disukai, percaya diri, Rapi, bersih, suka hal – hal yang baru.

Untuk Materi Pembelajaran secara daring anak didik lebih memilih Google Class Room, Whatsaap grup dan pemberian  materi melalui youtube. Sedangkan untuk kuis/ latihan peserta didik lebih memilih Profprofs, Quiziz dan google formulir. 

Dan untuk merespon apa yang diinginkan ana didik, maka penulis berusaha melakukan pembelajaran melalui apa yang mereka inginkan agar dapat megikuti pembelajaran dengan menyenagkan. Dan untuk melakukan hal ini penulis berusaha mencari referensi dari berbagai sumber agar dapat memberikan pembelajaran sesuai dengan pembelajaran yang diminati para anak didik. Walaupun bukan merupakan kendala utama tetapi cukup banyak waktu yang penulis habiskan untuk memperbaiki cara mengajar yang berpusat pada murid.Tidak lupa penulis juga membagikan ilmu yang penulis dapatkan kepada rekan - rekan sejawat terkait apa yang membuat anak didik senang dalam mengikuti pendidikan.

 

Pembelajaran yang di dapat dan Perbaikan Kedepan

P

endidikan yang menyenangkan dan berpusat pada murid itu tidak gampang untuk dilakukan karena banyak hal yang harus diperhatikan tetapi juga tidak terlalu sulit untuk diterapkan jika setiap pendidik punya kemauan untuk sebuah perubahan. Anak didik adalah objek kasih para pendidik, maka sudah seyogyanya pendidik memberikan yang terbaik buat setiap putra bangsa. Dengan memperhatikan kekuatan yang ada pada anak didik, pembelajaran yang menyenangkan menurut murid, berkoordinasi dengan para murid, maka tugas untuk menuntun akan semakin baik.



Dokumentasi












Minggu, 01 November 2020

Rancangan Tindakan Untuk Aksi Nyata


GURU PENGGERAK

Maina Trisnawati Hasibuan                Pendamping Ibu Elsa Hanani Barus       

CPG 106 Kab Deli Serdang                  Fasilitator Ibu Yetty Fitra Dewi

 

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

 


Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Maina Trisnawati Hasibuan                Pendamping Ibu Elsa Hanani Barus        

CPG 106 Kab Deli Serdang                  Fasilitator Ibu Yetty Fitra Dewi  

Sintesis berbagai materi

D

alam mendidik anak SMP, awalnya saya beranggapan bahwa tugas guru adalah mentransfer ilmu sebanyak – banyaknya agar setiap siswa yang saya ajarkan mengetahui, memahami dan menerapkan semua ilmu yang mereka dapatkan dari saya. Saya guru yang haus akan ilmu, itu juga yang saya inginkan atas siswa/siswi saya. Saya berharap mereka bisa menjadi seseorang yang saya inginkan, bahkan ketika saya mengajar, jika ada siswa yang bermain saya akan menegur mereka. Saya ingin mereka belajar dengan serius. Saya sangat mencintai siswa/siswi saya dan saya tidak ingin mereka gagal maka saya mendidik mereka cukup tegas. Memang sejak awal saya telah berfikir bahwa pendidikan itu harus berpusat pada siswa, tetapi saya salah mengartikan mengenai pendidikan yang  berpusat kepada siswa, bahwa siswa di berikan makanan ilmu pengetahuan yang sebanyak – banyaknya ( Standar kurikulum yang berlaku) tanpa memperhatikan bagaimana siswa yang saya ajarkan.


Namun ketika saya mempelajari Pemikiran Pendidikan menurut Bapak Ki Hajar Dewantara, ada banyak hal yang membuat saya sadar ternyata mencintai murid saja tidak cukup, haus akan ilmu saja tidak baik, menginginkan siswa menjadi sesuatu yang kita inginkan bukanlah tujuan pendidikan, dan serius dalam belajar bukan cerminan siswa memahami apa yang kita ajarkan, bahkan ketika saya berpikir bahwa saya sudah melakukan banyak hal terhadap siswa/siswi saya bukanlah yang dikatakan dengan berpusat pada murid. Ahh….. ternyata saya belum banyak paham akan arti pendidikan yang sesungguhnya.


B

apak Ki Kihajar Dewantara mengajarkan bahwa Pendidikan itu suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak – anak. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan - kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu. Hal ini di analogikan seperti seorang petani. Petani yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. Meskipun pertumbuhan tanaman dapat diperbaiki, tetapi ia tidak dapat mengganti kodrat padi, padi tidak bisa di ubah menjadi jagung ataupun tanaman lainnya. Begitupun siswa, tidak ada yang dapat mengubah kodrat alam anak karena anak dilahirkan dengan kodratnya masing – masing dan dasar jiwanya masing – masing.  Guru hanya dapat menuntun, bagaimana cara guru menuntun akan membawa pengaruh yang sangat besar terhadap tumbuh kembangnya anak – anak.


Selanjutnya hal yang saya pelajari lebih lanjut dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa tujuan pendidikan adalah Merdeka Belajar yang dikembangkan 4 dimensi yaitu Dimensi Jasmani, dimana pendidikan mengarah pada kemerdekaan fisik yang sehat dan kuat, produktif, kreatif dan inovatif. Kedua dimensi akal, mengarahkan pendidikan pada pencapaian kecerdasan yang lebih tinggi dan luas. Ketiga Dimensi Rohani, mengarahkan pada pencapaian keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dengan mencapai kemerdekaan mental dan kerohanian. Dan yang ke empat dimensi sosial, tercapainya sikap-sikap keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggung jawab,dan disiplin.

K

i Hajar Dewantara mengatakan dalam hal mendidik yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia yakni pengangkatan manusia ketaraf insani. Untuk mencapai hal itu pedoman yang dapat di gunakan yang sering disebut Trilogi Pendidikan, yaitu Ing ngarsa Mangun Karsa, guru didepan sebagai pemberi teladan ( contoh ) tindakan yang baik. Ing Madya Mangun Karsa, guru di tengah membangun semangat, memprakarsa ide dalam diri para siswa. Dan Tut Wuri handayani, yakni guru di belakang memberi dorongan dan arahan.  Trilogi ini Jika di lakukan dengan menggunakan Metode Pembelajaran Among akan berdampak luar biasa pada perkembangan siswa/siswi dalam pendidikannya. Sistem Among memiliki pengertian menjaga, membina, mendidik anak dengan kasih sayang. Selain itu pendidik juga harus memahami bahwa karakteristik siswa adalah bermain, mengungkapkan rasa dan bebas (merdeka). Ketika guru memahami karakteristik siswa/siswi maka itu akan menolong guru untuk menuntun anak didik dengan baik pula. 

S

aya telah memutuskan bahwa inilah saatnya memperbaiki diri, sebagai seorang guru SMP dimana anak didik berusaha dengan keras mencari jati diri (masa peralihan dari anak – anak ke remaja dan pra dewasa), dan dengan berbekal penguatan dari pemikiran Bapak Ki Hajar Dewantara yang telah mengubah cara pandang saya terhadap pendidikan yang sesungguhnya. Saya akan mengubah cara pandang saya terhadap anak didik saya, saya akan menolong mereka mengekplorasi pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pelajaran yang saya ajarkan. Saya akan tuntun mereka dalam mencari jati diri mereka dengan kodrat mereka masing – masing dan menjadi jati diri yang bermakna bagi mereka. Pendidikan harus berpusat pada siswa bukan dalam penyampaian materi pembelajaran tetapi akan saya terapkan dalam menuntun meraka. Salam Bahagia! Merdeka Belajar!


Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapak karena hanya dua orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas (Karya Ki Hajar Dewantara, Pendidikan, halaman 382)